Selamat Datang di Website ATL


Sekilas TentangAsosiasi Tradisi Lisan

Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) merupakan lembaga nirlaba yang didirikan oleh Dr. Pudentia MPSS, M.Hum,  Roger Tol, Achadiati Ikram (Prof. Dr), Sutamat Arybowo, dan Bisri Effendy sejak tahun 1993. Lembaga ini adalah wadah untuk menampung dan menyelenggarakan berbagai kegiatan yang bersifat akademis, seperti seminar, pelatihan peneliti muda, penelitian-penelitian dari berbagai bidang yang berkaitan dengan tradisi lisan, dan upaya untuk mempopulerkannya dalam dunia pendidikan.
Ratusan hasil penelitian mengenai  mitos, cerita daerah, kesenian tradisional, bahasa, kajian etnografi, dan  komunikasi yang didokumentasikan oleh lembaga tersebut tertata di kantor ATL  yang terletak di Menteng Wadas, Jakarta. Kajian tekstual dalam tradisi lisan  tersebut ditujukan untuk menjembatani hubungan antarmanusia karena sesungguhnya  kecairan sebuah kebudayaan dapat terwakilkan dalam kelisanan yang mengakomodasi  nilai-nilai masyarakat secara konkret. Akan tetapi, di atas segalanya, budaya  lisan juga memiliki resistensi terhadap hegemoni dan kerutinan yang jauh  berbeda dengan dunia teks.
Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) telah  memusatkan perhatian pada pemikiran-pemikiran teoritik dalam pengkajian tradisi  lisan yang diharapkan dapat membangun paradigma baru dalam pendekatan  kelisanan, antara lain dengan memadukan pendekatan tekstual dan kontekstual. 


Peluncuran Film Dokudrama “Doa Anak Seorang Pemukul Bel”

Universitas Halu Oleo bekerja sama dengan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL), kemarin (Kamis, 18/02/2016), meluncurkan film dokudrama berjudul Doa Anak Seorang Pemukul Bel. Bertempat di Gedung Kineforum Jakarta At Council, Taman Ismail Marzuki, peluncuran film dokudrama ini dihadiri oleh para tamu undangan beserta para pembahas, yaitu Prof. Usman Rianse (Rektor Universitas Halu Oleo, Kendari), Dr. Mukhlis Paeni (Ketua Dewan Pembina ATL), Slamet Rahardjo Djarot (Sutradara/Aktor Senior), Dr. Sumariella (Pengamat Film UI).
Pemutaran film berlangsung sangat khidmat. 

Film tersebut bercerita tentang perjalanan seorang anak pemukul bel yang dimulai dari doanya untuk bergelut di bidang pendidikan sampai akhirnya ia benar-benar mencapai mencapai mimpinya. Banyak nilai yang didapat dari film ini. Misalnya, Kesederhanaan seorang anak manusia dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, kuatnya peranan orang tua dalam membentuk karakter anak, cinta dan dinamika kehidupan, dan lain sebagainya.

Menurut Dr. Sumariella film tersebut tidak hanya menampilkan kegigihan seorang anak bernama Sumano (Usman Rianse) yang berjuang untuk mencapai cita-citanya, tetapi juga film tersebut menyuarakan potret pendidikan Indonesia yang saat ini masih jauh dari kata “sempurna”. Selain itu, menurut Slamet Rahardjo Djarot, film bukanlah sebuah gambar, tetapi merupakan gambaran kehidupan. Bagaimana film dapat menyadarkan manusia sebagai refeksi dari kehidupan.

Film tersebut merupakan film yang inspiratif. Peluncuran film ini diharapkan dapat memotivasi anak-anak untuk terus berjuang menggapai cita-citanya. Sebab, mereka punya hak yang sama untuk menggapai mimpinya.

Asosiasi Tradisi Lisan Indonesia Mendunia

Asosiasi Tradisi Lisan atau Oral Traditions Association Indonesia berhasil terakreditasi secara internasional oleh UNESCO untuk menjadi mitra dalam memelihara warisan budaya tak benda. Kehormatan yang diberikan UNESCO ini menjadi tantangan bagi Indonesia untuk memelihara dan mengembangkan kebudayaan lisan Nusantara dan berkontribusi di dunia internasional.


Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Prudentia MPSS di Jakarta, 14 Desember 2010, mengatakan bahwa keputusan UNESCO untuk menggadeng ATL menjadi mitra dalam pelestarian dan penyelamatan warisan budaya tak benda atau safeguarding of the intangible cultural diumumkan dalam pertemuan di Nairobi, Kenya, akhir November lalu.

ATL akan berperan dalam membantu UNESCO di Indonesia dan dunia internasional untuk melestarikan kebudayaan yang ada di belahan bumi ini. Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal mengatakan, penelitian dan keahlian tradisi lisan Indonesia yang sangat kaya itu perlu diperbanyak kemudian ditulis dan direkam dalam multimedia supaya jadi kekayaan budaya Indonesia.

“Ini jadi kesempatan juga untuk mengembangkan penelitian Indonesia dan menaruhnya dalam publikasi ilmiah,” kata Fasli.

Kajian tradisi lisan juga dikembangkan. Pemerintah memberikan beasiswa S2 dan S3 untuk kajian ini di dalam dan luar negeri. Menurut Fasli, tradisi lisan juga bisa dikembangkan dalam muatan lokal di sekolah. ATL diminta untuk bisa menyiapkan kurikulumnya.

“Selain itu, budaya tradisi lisan bisa dipakai untuk memperkaya pendidikan karakter anak-anak bangsa,” kata Fasli.

Sumber: Kompas, tradisilisan