Tentang ATL

Latar Belakang

·         Bermula dari sebuah kerja yang diberi nama Proyek Tradisi Lisan Nusantara (PLTN), tahun 1992. Proyek ini merupakan kerja sama pemerintah Belanda dan pemerintah Indonesia dengan bantuan The Ford Foundation. Tujuannya adalah publikasi dan penerbitan naskah hasil transkripsi tradisi lisan. Kegiatan ini berkembang dengan mengadakan tiga jalur pendekatan, yaitu: Ilmu pengetahuan, publikasi, dan pementasan.
·         Kemudian diwujudkan dengan mengadakan kegiatan yang lebih luas, yaitu “Seminar Internasional dan Festival Tradisi Lisan Nusantara I” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta 9–11 Desember 1993. Pada saat itu pula disepakati berdirinya sebuah lembaga tetap pengganti PLTN yang diberi nama Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).
·         Setelah disepakati pendiri ATL tanggal 11 Desember 1993, organisasi ini segera berbenah diri. Sebagai lembaga baru, pengurus sibuk menyiapkan perangkatnya, antara lain mengadakan dialog dengan mitra kerja, bernegosiasi dengan instansi penyantun, dan menyusun program organisasi. Dalam tahapan tersebut, pengurus ATL telah berhasil meyakinkan pihak-pihak terkait bahwa walaupun jaman sudah berorientasi pada serba literasi dan teknologi, tetapi tradisi lisan masih punya kekuatan yang perlu diperhatikan.
·         Pada saat itu kami adalah generasi baru tanpa “angkatan” yang mencoba mendayung di antara dua lautan. Di satu sisi, kami adalah staf pengajar dan peneliti yang bergaul dengan dunia akademis, tetapi di sisi lain, kami berurusan dengan dunia LSM yang mengadakan advokasi terhadap pelaku, pendukung, dan pemilik tradisi. Keprihatinan kami ketika itu bukan menangisi tradisi lisan sebagai khazanah budaya yang mulai punah, melainkan karena panggilan hati nurani kami untuk mengkaji, mendokumentasikan, dan membela hak hidup para pelakunya untuk tetap berekspresi melalui apa yang dimiliki. Awal pikiran kami, “kalaupun tradisi lisan menghadapi kematian, tetapi matinya secara alamiah, dan jangan karena hasil pembunuhan”. Dari sanalah kami berasal dan ke sanalah kami kembali. Kemudian kami bekerja secara bertahap seiring dengan perkembangan penelitian kebudayaan di Nusantara hingga saat ini.


PERJALANAN TAK KENAL LELAH

·         ATL yang berusia muda belum memiliki sekretariat tetap. Sepanjang tahun 1994, ia beberapa kali pindah tempat dan “numpang alamat”, antara lain di Fakultas Sastra UI (sekarang Fakultas Ilmu Budaya UI) dan di Puslitbang Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI. Atas budi baik Friedrick Naumann Stiftung (FNSt), sebuah organisasi dari Jerman, kami diberi ruangan di Jl. Rajasa II/7 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di sini kami dapat bekerja dengan tenang, walaupun dengan fasilitas seadanya. Belum lama kami berteduh, tampaknya ada LSM lain yang ingin menempati ruangan itu. Maka kami tahu diri, andaikan ia membutuhkan kami bersedia untuk meninggalkan tempat itu. Untuk menjaga hubungan baik kami dengan FNST, kami berpamitan, kemudian kami menempati sekretariat baru di rumah Ketua ATL di Jl. Cempaka II/3 Bumi Malaka Asri Buaran, Jakarta Timur
·         Selama berpindah-pindah tempat kami belum berbadan hukum, sehingga pada saat itu kami tidak dapat menerima grant secara langsung dari mitra kerja luar negeri. Berkat budi baik Yayasan Obor Indonesia, kami dibimbing dan diberi kepercayaan untuk titip grant international melalui lembaganya. Dengan cara seperti itulah kami dapat bernapas sejenak dan kami dapat melanjutkan program-program kami. Di tengah kesibukan para pengurusnya yang sebagian besar masih menempuh studi di luar negeri, maka ATL berusaha memiliki statusnya menjadi badan hukum dengan bentuk Yayasan nirlaba. Melalui yayasan nirlaba inilah ATL dapat membuka sayapnya dan dapat menerima grant secara langsung atau hibah yang sifatnya independen dari dunia internasional
·         Mengingat program ATL mulai berkembang dan membutuhkan sekretariat tetap yang agak luas dan mudah diakses dari berbagai penjuru Ibu Kota, maka memutuskan untuk pindah tempat. Hingga kini kami memilih menempati sebuah rumah sederhana di bilangan Manggarai, tepatnya di Jl. Menteng Wadas Timur No. 8, Jakarta Selatan. Dari sinilah kami bekerja, dari sinilah kami berkarya. Dari sinilah kami menjalin dan membuka network ke pelosok Nusantara. Dari sini pula kami memiliki contact person di 20 Ibu Kota provinsi, sehingga kami dapat membangun kebersamaan dengan para narasumber dan para pendukung tradisi lisan.
·         Kami kemudian menyusun konsep untuk meneguhkan visi dan misi organisasi. Tentu hal ini berkembang sesuai dengan penjelajahan para peneliti ATL dalam menerapkan metodologi dan cara mendekati masalah. Pada mulanya dalam melakukan pengkajian-pengkajian, kami ingin menggunakan perpaduan pendekatan tekstual dan kontekstual. Ternyata pendekatan itu bukanlah pekerjaan akademis yang mudah diwujudkan. Untuk mengatasi hal tersebut, kami mencoba memasukkan muatan sosial dan religi sehingga penelitian-penelitian yang kami lakukan menambah beban muatan, yaitu menambah pendekatan sosiologis maupun antropologis. Dengan perpaduan sosioantropologis ditambah tekstual dan kontekstual, berarti kami menempatkan tradisi lisan sebagai ekspresi masyarakat pendukungnya. Sebagai ekspresi masyarakat, tradisi lisan berarti pula memuat aspek-aspek kehidupan sosial dan religius, seperti ideologi, nilai-nilai, dan pandangan hidup. Dengan demikian dalam perkembangannya kami berpendapat bahwa tradisi lisan sesungguhnya bukan saja sekadar khazanah budaya yang dijadikan klangenan, melainkan juga dapat dipandang sebagai “peristiwa sosial-budaya”.
·         Beberapa event budaya yang diselenggarakan ATL, dalam praktiknya selalu berhubungan dengan event sosial. Untuk merespon usulan teman-teman di daerah, kami tidak keberatan untuk melakukan re-orientasi dan re-posisi. Hal tersebut kami lakukan sesuai perjalanan ATL dalam menangani penelitian dengan action program. Kami mencoba berpikir yang lebih realistik, sehingga dalam merealisasi action program tersebut, kami lebih banyak bertindak sebagai mediator antara “power” dengan pihak yang di bawah, yaitu pelaku tradisi. Tanpa sadar kami diilhami pengalaman di lapangan (mungkin ditambah “jam terbang”) sehingga kami memberanikan diri menyusun sebuah visi yang dapat mengakomodasi aspirasi teman-teman, yaitu: “ATL ingin menjadi lembaga terdepan dalam mewujudkan tradisi lisan sebagai sumber kebijaksanaan dan pembentukan karakter budaya yang pluralistik”, sesuai dengan realita sosial di Nusantara.

Testimonial

Tradisi lisan juga bisa dikembangkan dalam muatan lokal di sekolah. ATL diminta untuk bisa menyiapkan kurikulumnya. Selain itu, budaya tradisi lisan bisa dipakai untuk memperkaya pendidikan karakter anak-anak bangsa.

Fasli Jalal - Wakil Menteri Pendidikan Nasional  (2010)